Tampilkan postingan dengan label agama buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama buddha. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

BUDDHA DHAMMA DI THAILAND



SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI THAILAND

  1. A.  Pendahuluan ( Sejarah Agama Buddha )
Sejarah agama Buddha bermula dari riwayat kelahiran Sidharta Gautama. Beliau merupakan seorang putera raja Sudhodana dan ratu Dewi Mahamaya yang dilahrikan ke dunia ini tanpa mengetahui hal duniawi. Saat umur 29 tahun, pangeran sidharta telah keluar dari istana dan telah melihat empat peristiwa penting yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan pertapa suci. Untuk mencari jalan menghindari penderitaan, pangeran keluar dari istana dan meninggalkan segala-gala yang dimilikinya termasuklah anak, isteri, ibu dan bapak serta segala kemewahannya.
 Setelah mengembara selama 6 tahun dan bertapa selama 48 hari di bawah pohon Bodhi dan pada hari ke-49 pada malam purnama Wesak, pertapa gautama telah menyadari dan memahami bahwa penderitaan selalu ada di kehidupan manusia. Beliau mengajarkan tentang jalan mulia berunsur delapan yaitu ucapan benar, perbuatan benar, pencarian benar, usaha benar, perhatian benar, kosentrasi benar, pikiran benar, pandangan benar.
Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.
Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswanya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).
  1. B.  Isi ( Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Thailand )
Perkembangan populasi penduduk di Thailand adalah 25.519.965.  Dari jumlah ini 94% adalah Buddha (sisanya kebanyakan Muslim dan Kristen). 90 % dari penduduknya adalah umat Buddha Theravada.  Sekolah agama Buddha Theravada lebih didasarkan murni pada ajaran-ajaran Siddartha Gotama (Buddha). Dalam sejarah panjang keberadaan Thailand tampaknya telah didominasi umat Buddha, setidaknya sejak mereka datang dengan ajaran agama Buddha.  Semua raja Thailand dalam sejarah tercatat Thailand saat ini telah menganut agama Buddha.  Konstitusi negara menetapkan bahwa Raja Thailand harus menjadi Buddhis dan penegak agama Buddha. Beberapa ahli mengatakan bahwa Buddhisme diperkenalka

Kamis, 15 November 2012

RINGKASAN MAHAYANA



RINGKASAN MAHAYANA

1. Konsili keempat (titik perkembangan Mahayana)
Tahun 78 SM di Kashmir dipimpin oleh Vasumitra dan Asvagosa dilaksanakan atas anjuran raja Kanisha. Mrp titik awal perkembangan Mahayana, dimana dlm konsili 4 ini tidak dihadiri dari golongan staviravada yg mrp sesepuh dari theravada.

2. Kedekatan Sarvastivada dg perkembangan Mahayana.
a. Subhuti mrp tokoh penting dlm literatur Prajna Paramitha & tokoh utama dlm tradisi Sarvastivada.
b. Lalitavistara Kita yg termasuk dlm Sarvastivada, dan mrp salah satu dari sembilan kitab penting Mahayana
c. Kitab Prajnaparamitha salah satu kitab penting mahayana, pertama kali dibabarkan oleh Masjursi di Orissa pusat pengaruh penyebaran Sarvastivada.

3. Sembilan sutra terpenting dlm Mahayana :
1. Sadharma Pundarika sutra 
2. Lankavatara sutra 
3. Asthasahasrika ptajna paramitha sutra 
4. Gadhavyuha sutra 
5. Dasabhumika sutra
6. Samadhiraja sutra
7. Thatagataguyaka sutra
8. Lalitavistara sutra
9. Svarnaprabhasa sutra

PENGANTAR VINAYA



PENGANTAR VINAYA
Editor :
Bhikkhu Subalaratano
Dharma K. Widya;
Diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda;
Jakarta, 1988, Edisi Pertama
BAB I
P E N D A H U L U A N

Jumat, 19 Oktober 2012

abhidhamma pitaka

Abhidhamma Piṭaka


Abhidhamma Piṭaka adalah kitab yang berisikan tentang uraian mengenai filsafat, metafisika dan ilmu jiwa Buddha Dhamma, yang terdiri dari 42.000 Dhammakhandha (pokok Dhamma), yang terbagi menjadi:
  1. Dhamma sangaṇī
  2. Vibhanga
  3. Dhātukathā
  4. Puggala paññatti
  5. Kathāvatthu
  6. Yamaka
  7. Paṭṭhana

Sutta Pitaka

Sutta Piṭaka

Sutta Piṭaka (suttapiṭaka; or Suttanta Pitaka; cf Sanskrit सूत्र पिटक Sūtra Piṭaka) adalah bagian kedua dari tiga bagian Tipitaka, kitab suci agama Buddha. Sutta Piṭaka berisikan lebih dari 10.000 sutta (ajaran) berisikan khotbah-khotbah, dialog dan tanya jawab Buddha Gautama dengan para siswa, petapa maupun orang lain.
Sutta Pitaka terdiri atas 5 kumpulan (nikaya) atau buku, yaitu:
  1. Digha Nikāya
  2. Majjhima Nikāya
  3. Saṁyutta Nikāya
  4. Aṅguttara Nikāya
  5. Khuddaka Nikāya  

tripitaka

Tipiṭaka


Tripiṭaka (bahasa Pali: Tipiṭaka; bahasa Sanskerta: Tripiṭaka) merupakan istilah yang digunakan oleh berbagai sekte Buddhis untuk menggambarkan berbagai naskah kanon mereka.[1]. Sesuai dengan makna istilah tersebut, Tripiṭaka pada mulanya mengandung tiga "keranjang" akan berbagai pengajaran: Sūtra Piṭaka (Sanskrit; Pali: Sutta Pitaka), Vinaya Piṭaka (Sanskrit & Pali) dan Abhidharma Piṭaka (Sanskrit; Pali: Abhidhamma Piṭaka).

Sejarah

Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi" (Vinaya Pitaka II,284). Maha Kassapa Thera setelah mendengar kata-kata itu memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.

Senin, 15 Oktober 2012

mahayana



 RINGKASAN MAHAYANA

1. Konsili keempat (titik perkembangan Mahayana)
Tahun 78 SM di Kashmir dipimpin oleh Vasumitra dan Asvagosa dilaksanakan atas anjuran raja Kanisha. Mrp titik awal perkembangan Mahayana, dimana dlm konsili 4 ini tidak dihadiri dari golongan staviravada yg mrp sesepuh dari theravada.

2. Kedekatan Sarvastivada dg perkembangan Mahayana.
a. Subhuti mrp tokoh penting dlm literatur Prajna Paramitha & tokoh utama dlm tradisi Sarvastivada.

Jumat, 16 Desember 2011

KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA


Ketuhanan dalam Agama BuddhA


KETUHANAN YANG MAHAESA
DALAM AGAMA BUDDHA
Oleh : Corneles Wowor, M.A.
"Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma,
Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak.
Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang
Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran,
penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak
Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu."
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII :
3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa
dalam bahasa Pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Suatu Yang
Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".
Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat
dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang
Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai
kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan
dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain.
Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang
mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut
agama-agama lain. Sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam
agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain. Hal inilah yang menjadi
dasar penulisan ini.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka
bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak
konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep
dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang : Alam Semesta, Kejadian Bumi dan Manusia,
Kehidupan Manusia di Alam Semesta, Kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.